Sejumlah pria kehilangan percaya diri saat bicara kelebihan lemak di hadapan pasangan.
Survei International Chair on Cardiometabolic Risk (ICCR) terhadap 2.000 orang dewasa menemukan bahwa 31 persen pria takut melihat reaksi pasangan ketika mendiskusikan topik lemak tubuh, seperti perut buncit. Sementara wanita, hanya 10 persen yang malu membicarakan kelebihan berat badan dengan pasangannya.
Persentase berubah saat mereka diminta membahas soal berat badan berlebih dengan teman sesama jenis. Hanya delapan persen pria yang enggan membicarakan soal berat badan dengan teman sesama jenis. Sementara wanita yang kehilangan percaya diri membicarakan berat tubuh dengan teman sesama jenis mencapai 23 persen.
Berdasar survei tersebut terungkap bahwa pria cenderung lebih merasa bebas membicarakan soal berat badan dengan teman sesama jenis. Sedangkan wanita justru lebih percaya diri bicara soal program pelangsingan tubuh dengan pasangannya.
Survei dilakukan untuk menunjang kampanye mengenai risiko kelebihan berat badan, terutama di sekitar perut. Survei yang didukung Forum Obesitas Nasional di Inggris, itu, menemukan bahwa 59 persen orang cemas ketika pasangan mereka menderita perut buncit. Mereka sadar bahwa perut buncit meningkatkan risiko penyakit kronis.
Sebanyak 31 persen responden menjalani program penurunan berat badan diam-diam, karena khawatir menerima reaksi menyakitkan dari pasangannya. Mereka umumnya merasa tak percaya diri dengan kelebihan lemak, terutama di area perut, di hadapan pasangan.
Seperti dikutip dari mirror.co.uk, Profesor David Haslam, Ketua Forum Obesitas Nasional, mengatakan, "Membicarakan berat badan kadang menjadi isu sensitif antarpasangan. Padahal dengan berdiskusi, mereka bisa saling membantu menjauhkan diri dari risiko penyakit berbahaya."
Studi yang dilakukan sejumlah pakar kesehatan dari Mayo Clinic, di Rochester, Minnesota, menunjukkan, lemak yang terakumulasi di perut meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.


0 komentar:
Posting Komentar